Iklan

Aplikasi OneImpact Sehat Untuk Pasian TB

8/25/2020, 08:21 WIB Last Updated 2020-08-25T01:21:43Z

Jakarta, Beritainn,- Dalam diskusi yang diadakan LKNU dan POP TB Indonesia menyuarakan hak-hak pasien TB (Tuberkulosis), termasuk diantaranya untuk mengurangi stigma dan diskriminasi melalui aplikasi OneImpact Sehat pada hari senin (24/08/2020) di Wyndham Hotel Jl. Casablanca kav 18, Jakarta. Dihadiri oleh Budi Hermawan Chairman POP TB, Sulistio dari Kemenkes RI, Dr. Esty Febriani, M. Kes Ketua Program LKNU serta Aldo TB Survivor. Aplikasi ini dirancang dengan menggunakan jaringan internet dan smart phone yang mudah pengoperasiannya.

Sulistio perwakilan dari Kemenkes RI, mengatakan : "Pengobatan para pasien TB itu waktunya berbeda-beda ada yang 2 tahun ada juga yang kurang dan lebih dari 2 tahun tergantung dari kondisi pasien tersebut, hal yang paling penting adalah pasien tidak boleh lupa dan terlewat mengkonsumsi obat TB karena kalau sampai terlewat makan pasien harus mengulangnya lagi dari awal".


Menu satu hingga menu tiga dirancang untuk memperkuat pasien TB dengan berbagai informasi dan layanan terkait TB, serta memberikan kesempatan berjejaring di antara pasien TB. Menu keempat, dirancang untuk mendorong pasien TB dapat melaporkan seluruh keluhan atau kendala yang dihadapi selama mendapatkan layanan TB. Sedangkan menu kelima adalah survey mengenai penggunaan aplikasi OneImpact Sehat sebagai dasar evaluasi program aplikasi ini.

Aplikasi ini telah melalui ujicoba dan akan terus disempurnakan. Dalam penyempurnaannya aplikasi OneImpact Sehat ini telah dimodifikasi oleh Stop TB Partnership Global sesuai dengan kebutuhan yang ada di Iapangan sebelum benar-benar dapat digunakan oleh pasien TB.

"Langkah-langkah yang dilakukan oleh LKNU saat ini yaitu fokus melakukan pemberdayaan komunitas serta memberikan dukungan sosial dan terus bersama kelompok mantan pasien melalui para kader memberikan informasi yang akurat, karena issue pasien tidak hanya masalah pengobatan saja akan tetapi juga masalah diskriminasi dan sebagainya, LKNU akan terus memberikan dukungan kepada pasien agar bisa melakukan pengobatan secara tuntas, serta menggandeng para pasien dan kelompok mantan pasien agar suara dan masalah mereka bisa teratasi dengan baikp," ujar Dr. Esty Febriani, M.Kes - Ketua Divisi Program LKNU".


Berdasarkan dashboard OneImpact Sehat, 40.5% pasien melaporkan efek samping obat menjadi kendala pengobatan, 18.9% mengalami kendala ketersediaan layanan TB, 14.4% mengalami kendala biaya pengobatan serta 11.7% mengalami stigma. Lebih Ianjut, stigma yang dialami termasuk, perlakuan tidak nyaman dari keluarga, petugas kesehatan dan bahkan adanya pasien yang diusir dari lingkungan tempat tinggal dan diberhentikan dari pekerjaan.

Penggunaan aplikasi ini menjadi penting dan mendesak mengingat tuberkulosis masih menjadi penyakit dengan beban tinggi di dunia termasuk Indonesia. Menurut laporan WHO TB Global 2018, di Indonesia terdapat 842.000 orang sakit karena TB dan 116.000 orang meninggal karena TB. Persoalan ini menjadi mendesak karena hanya 53% atau 446.732 dari 842.000 yang dilaporkan. Artinya, sisanya masih hilang tidak terlaporkan, atau Iebih tepatnya tidak tersuarakan.

The Global Fund (2019) melaporkan bawa kondisi ini semakin berat ketika penderita TB menghadapi stigma dan diskriminasi dari petugas kesehatan, anggota masyarakat, pemberi kerja, keluarga, serta stigma diri sendiri. Hal ini menjadi hambatan yang signifikan dalam pengujian, diagnosis, perawatan dan kepatuhan pengobatan sehubungan dengan layanan TB. Selain itu, Spiritia (2018) melaporkan bahwa kurangnya pengetahuan menyebabkan ketakutan dan stigma.

Permasalahan hak asasi manusia ini menjadi inti dari Strategi End TB WHO. Terdapat lima hak asasi yang diperjuangan, yaitu 1). Hak untuk sehat, 2). Hak untuk bebas dari stigma dan diskriminasi, 3). Hak untuk mendapatkan privasi dan kerahasiaan, 4). Hak untuk mendapatkan informasi, dan 5). Hak untuk bebas menentukan pilihan.

Sangat bermanfaat bagi penderita TB disaat pandemi Cobid-19 menggunakan aplikasi OneImpact Sehat ini, Berdasarkan hasil Survei Pemantauan Implementasi Protokol TB Nasional, yang dilakukan oleh STPI bekerjasama dengan Kemenkes RI, LKNU, Aisyiyah, dan POP TB Indonesia, pada 18-26 Mei 2020, menunjukkan angka yang signifikan pada penggunaan ponsel, yaitu 70% petugas kesehatan TB di Puskesmas, 67% pengelola program TB kabupaten, dan 48% petugas layanan TB PMDT menggunakan ponsel (WhatsApp, telpon, SMS/chat) untuk memantau pengobatan pasien TB. Petugas kesehatan menghubungi kader atau keluarga pasien (45% responden Puskesmas; 38% responden PMDT) atau terus melakukan kunjungan rumah sambil berlatih jarak fusik (41% PMDT responden; 18% responden Puskesmas). Dari survei itu juga terdapat data yang menunjukkan bahwa 55% pasien TB-RO dan 41% kader TB menemukan informasi TB melalui media social. Selain itu, terdapat 33% pengelola TB kabupaten menggunakan media sosial untuk mempromosikan informasi TB.(ALNR)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini