Mayoritas Mitra Maxim Tak Siap Jadi Karyawan Tetap, Khawatir Hilang Fleksibilitas

  • Whatsapp

Jakarta, Beritainn.com, – Di tengah diskusi publik soal regulasi ketenagakerjaan dan status pekerja GIG, Maxim Indonesia merilis hasil riset internal yang melibatkan 30.000 mitra pengemudi aktif. Temuan ini memperlihatkan bahwa lebih dari 65% pengemudi menolak kehilangan peluang penghasilan harian jika status mereka diubah menjadi karyawan tetap.

Riset tersebut menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam sistem kerja para pengemudi, yang selama ini memungkinkan mereka menggabungkan aktivitas lain seperti pendidikan, mengasuh keluarga, hingga pekerjaan kedua. Sebanyak 52% responden mengaku belum siap bekerja sebagai karyawan bergaji tetap, karena status formal dianggap dapat membatasi ruang gerak dan rutinitas harian mereka.
Menariknya, 50% mitra menjalankan pekerjaan di Maxim sambil bekerja di tempat lain, sehingga penerapan model satu pemberi kerja dinilai tidak selaras dengan karakter pekerjaan GIG yang serba fleksibel.

Survei juga mencatat variasi ketergantungan pendapatan para pengemudi pada platform Maxim. Sekitar 50% memperoleh lebih dari setengah pendapatannya dari Maxim, sementara 26% menghasilkan hingga 80%, dan hanya 22% yang menggantungkan 100% pendapatan pada platform. Data ini memperlihatkan bahwa mayoritas mitra masih menggabungkan berbagai sumber nafkah.
Salah satu pengemudi menyampaikan kekhawatirannya terkait wacana perubahan status kerja.

“Kalau sampai disuruh full (pekerja) saya nggak setuju. Kita kan juga harus antar anak sekolah, jemput, belum lagi kerjaan lain. Kalau begini caranya bisa dilepas kerjaan. Tapi kalau dilepas pusing juga karena penghasilan nggak cukup,” ujarnya.

Dari sisi perlindungan sosial, 62% responden menilai skema yang ada seperti BPJS Ketenagakerjaan dan YPSSI sudah cukup memadai. Namun, 57% belum siap menyisihkan pendapatan untuk asuransi tambahan, mengindikasikan minimnya pemahaman dan keterbatasan kemampuan finansial.

Maxim Indonesia menegaskan komitmennya memperluas akses jaminan sosial melalui kolaborasi strategis bersama BPJS Ketenagakerjaan. “Kami bertekad memberikan kemudahan bagi mitra untuk mengakses jaminan sosial BPJS,” ujar Dirhamsyah, Development Director Maxim Indonesia.
Riset juga menunjukkan bahwa 76% pengemudi tidak bersedia menjalani pemeriksaan tambahan atau prosedur birokrasi harian yang diwajibkan jika status pekerjaan berubah.

“Data menunjukkan para pengemudi belum benar-benar memahami konsekuensi perubahan status mitra menjadi pekerja. Alih-alih menyejahterakan, perubahan ini justru berpotensi menutup peluang mereka mencari nafkah,” kata Dirhamsyah.

Ia menambahkan bahwa pengemudi sangat mengutamakan fleksibilitas dibanding hubungan kerja yang kaku. Maxim bahkan memperingatkan bahwa regulasi yang tidak sesuai realitas lapangan dapat berdampak serius. Lebih dari 65% pengemudi disebut berpotensi kehilangan pekerjaannya jika status ketenagakerjaan diseragamkan.

“Jutaan mitra bergantung pada fleksibilitas harian. Jika kebijakan tidak mendukung realitas tersebut, sumber penghidupan mereka bisa terganggu,” lanjut Dirhamsyah.
Maxim memastikan seluruh proses survei dilakukan secara anonim dan sesuai regulasi privasi yang berlaku. (ALN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *