Menghadirkan Sesuatu Yang Istimewa _Annual Show Mel Ahyar_ Dalam Tajuk Kultulibrasi

Jakarta, Beritainn, – Mel Ahyar adalah Perancang Busana brand Mel Ahyar yang telah dikenal sebagai salah satu desainer paling cemerlang di kancah mode Indonesia.

Berlokasi di City Hall, PIM 3, Mel Ahyar mencoba menawarkan koleksi hasil interpretasi atas dinamika akulturasi budaya dan regenerasi berimbang antara pelaku dan konsumen budaya.

Pergelaran ini menjawab dalam RIKURIKU dari HAPPA dan XY, dilanjutkan dengan koleksi Mel Ahyar. HAPPA dan XY, dua merek _Ready to Wear_ yang juga dikelola oleh MMAC muncul sebagai pembuka.

Menampilkan koleksi RIKURIKU, yang terinspirasi dari cerita dibalik cerita ukiran Suku Asmat. RIKURIKU tampil membawa passion maskulinitas pria Asmat yang memahat kayu _to leave their mark on earth, as a legacy and tribute to the ancestors._ Terlihat dalam motif kerangka garis-garis floral yang rimbun maupun fauna, seperti lekuk ukiran kayu.

Gedog Tuban yang merupakan batik tulis di atas kain tenun, statusnya cukup critically endangered sehingga Mel menyuguhkannya hampir secara ‘utuh’ sebagai bahan baku utama. Lain lagi Medan yang diangkat sebagai melting pot berbagai wastra khas Sumatera Utara seperti songket Melayu, Ulos Batak, dan lain-lain.

Siluet dalam koleksi ini dipengaruhi mode 1940-2000an serta kebaya dengan potongan volume yang tegas, geometris, dan asimetris. Detail yang dipergunakan adalah detail bunga 3D dari mika, sulaman tangan, sulam usus, tapis, serta efek dari bunga yang diawetkan.

Tidak ada generasi muda yang dari lahir sudah serta-merta langsung berbudaya. Kolaborasi menggunakan wastra tidak hanya untuk meregenerasi pengrajinnya, tapi juga meregenerasi customers dari brand Mel Ahyar, ujar desainer yang masih aktif blusukan ke berbagai daerah untuk mempelajari ragam wastra ini.

Budaya yang punah menurut kami adalah budaya yang gagal beregenerasi. Yang survive adalah yang berhasil menemukan titik keseimbangan dengan mengakomodasi aspirasi lintas generasi.(Listia)

Pos terkait