PI Archery Club Kembangkan Prestasi dan Karakter Atlet Muda Panahan

Jakarta, Beritainn.com, – Panahan kini bukan lagi sekadar olahraga fisik. Di balik busur dan anak panah, para pemanah belajar fokus, sabar, dan percaya diri. Inilah semangat yang terus digaungkan Coach Rifatra Dai Leire melalui PI Archery Club, wadah terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenal seni memanah.

Rifatra memulai kiprahnya pada 2015, ketika memperkenalkan panahan lewat kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah sekitar Depok. Saat itu panahan masih dianggap olahraga minoritas, namun ia melihat lebih dalam: panahan adalah sarana membentuk disiplin dan karakter.

Seiring waktu, minat pelajar terhadap panahan meningkat hingga Rifatra mendirikan PI Archery Club. Kini, klub tersebut bermitra dengan empat sekolah swasta di Jakarta dan sekitarnya, dengan lebih dari 100 anak aktif berlatih. Biaya latihan pun cukup terjangkau, mulai Rp100 ribu untuk trial hingga Rp350 ribu per bulan untuk empat kali pertemuan.

“Lawan utama dalam panahan itu diri sendiri. Dari sana kita bisa mengukur kekurangan, apakah di fokus, fisik, atau teknik,” jelas pria yang akrab disapa Coach Fatra yang ditemui di SMP Muhammadiyah 31, Jakarta Timur, Senin (15/9).

Klub yang Inklusif
Keunikan PI Archery Club adalah sifat inklusifnya. Klub ini membuka pintu bagi anak-anak berkebutuhan khusus, mulai dari autisme, down syndrome, hingga disabilitas ortopedi. Dengan pendekatan sabar dan konsisten, banyak dari mereka mampu fokus, disiplin, bahkan bersaing di kategori umum.

“Beberapa murid sudah berprestasi dan menjuarai kompetisi. Anak-anak berkebutuhan khusus juga mendapat kesempatan yang sama untuk ikut bertanding,” kata Fatra.

“Terakhir El berhasil meraih juara 2 kategori bantalan, sementara Arfah sukses meraih juara 1 kategori bantalan sekaligus juara 3 kategori umum,” ucap Amanda Nasution yang merupakan salah satu Coach di PI Archery Club.

Butuh Dukungan Fasilitas
Meski berkembang pesat, tantangan tetap ada. Saat ini, fasilitas latihan resmi masih terpusat di GOR DKI seperti Ragunan, sementara kompetisi antar-klub kerap harus ditanggung biaya oleh peserta. Dukungan pemerintah baru sebatas pembiayaan untuk kejuaraan tingkat provinsi.

Fatra berharap pemerintah menyediakan fasilitas latihan panahan yang lebih merata di tiap wilayah.

“Panahan bisa diikuti semua usia, dari anak-anak hingga lansia. Jika ada fasilitas yang lebih merata, pasti makin banyak yang bisa ikut dan berprestasi,” tutupnya.(Hs/Foto:Hs)

Pos terkait