Jakarta, Beritainn.com, — Di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah, pertanyaan lama kembali mencuat: mungkinkah UMKM Indonesia naik kelas dan bersaing di pasar internasional? Jawabannya mulai terkuak dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Manajer Pemasaran Indonesia (IMA) 2025, yang digelar Sabtu (14/6) di Shangri-La Hotel, Jakarta.
“Kita tidak bisa lagi menyebut mereka sebagai pelaku UMKM. Mereka adalah pengusaha UMKM, dan harus berpikir sebagai pengusaha yang menargetkan pasar global, bukan hanya lokal. Dengan pemikiran itu, maka cara bertindak, strategi, dan semangatnya juga akan berbeda,” tegas Bagus Rachman.
Bagus juga menyoroti langkah strategis pemerintah dalam memisahkan unit kerja kementerian antara koperasi dan UMKM. “Presiden Prabowo meminta pemisahan ini dilakukan agar keduanya bisa mendapatkan fokus pengembangan yang lebih tajam dan tepat sasaran,” tambah Bagus.
“Komitmen pemerintah untuk mendukung kemajuan UMKM juga tercermin dari besarnya anggaran yang dialokasikan, hampir Rp1.000 triliun untuk mendorong pengembangan dan pemberdayaan sektor ini secara menyeluruh,” pungkas Bagus.

“Kami percaya bahwa UMKM Indonesia tidak hanya perlu didukung dengan pelatihan dan pembiayaan, tetapi juga dengan strategi pemasaran yang unggul, koneksi lintas sektor, jejaring ekspor dan eksposur media yang kuat. Inisiatif dukungan IMA untuk UMKM ini sejalan dengan semangat IMA dalam menjadikan Marketing for a Better Indonesia,” jelas Suparno.
Rakernas IMA 2025 juga digelar sesi talkshow bertema “Pemasaran Menembus Ekspor”, yang menghadirkan tokoh-tokoh kunci dalam ekosistem ekspor dan pemberdayaan UMKM. Hadir sebagai narasumber, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia, Benny Soetrisno; Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman; VP SME and Entrepreneurship IMA, Erik Hidayat; serta Irena Surosoputra, Owner Cokelatin Signature sekaligus pemenang IMA UMKM Awards 2024.
Sedangkan Erik Hidayat menyoroti pentingnya literasi digital dan kesiapan mental UMKM dalam menghadapi pasar global. “Digitalisasi adalah kunci. UMKM harus mulai aktif memanfaatkan media sosial, marketplace, dan video testimoni sebagai strategi pemasaran. Selain itu, kami di IMA terus membuka akses jejaring, pelatihan, dan pendampingan agar UMKM lebih siap dan percaya diri untuk ekspor,” jelas Erik.
Sementara itu, Irena Surosoputro membagikan kisah transformasi Cokelatin Signature, yang tumbuh dari dapur rumahan menjadi merek lokal yang berhasil menembus pasar Boston, Amerika Serikat, pada awal 2023.
“Kami memulainya dengan visi menghadirkan minuman cokelat yang lebih sehat, menggunakan bahan baku lokal dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Kami aktif mengikuti berbagai program pengembangan UMKM, dan melalui proses itu, kami secara bertahap membenahi SOP, kemasan, logo, hingga membangun storytelling brand yang kuat,” ujar Irena.
President IMA, Suparno Djasmin, menyebutkan dengan tema Rakernas IMA 2025, yaitu ”Agile Marketing in Times of Global Disruption,” mencerminkan kebutuhan mendesak bagi para pemasar untuk menjadi lincah, inovatif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan yang terjadi di hari-hari ini, mulai dari perlambatan ekonomi, perubahan geopolitik, percepatan teknologi, hingga pergeseran perilaku konsumen.
Selain itu, komitmen IMA juga ditunjukkan melalui berbagai program berdampak bagi masyarakat, seperti IMA UMKM Award dan berbagai program pengembangan kemampuan pemasaran yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia, serta program yang mendukung penghijauan melalui program Tanam Pohon. (ALN)
