Jakarta, Beritainn.com, — Nyeri punggung kronis dan cedera tulang belakang kini menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia, termasuk di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, Gyeonggi International Medical Association (GIMA) bersama Korea Medical Devices Association (KMDA) menggelar seminar internasional hybrid bertajuk “KOREA–INDONESIA 2025 Medical Collaboration: Neurosurgery & Orthopedic Care” di Klinik Artikulaar, Jakarta Selatan, Jumat (7/11).
Acara ini menjadi momentum penting bagi kemitraan medis lintas negara, mempertemukan ratusan profesional kesehatan — mulai dari dokter spesialis ortopedi, bedah saraf, hingga manajemen rumah sakit — untuk berbagi inovasi serta mempercepat adopsi teknologi kedokteran terkini di Indonesia.
“Kami tidak hanya membangun jembatan kolaborasi berkelanjutan, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia demi terciptanya layanan medis yang lebih berkualitas,” ujar dr. Alif Noeriyanto Rahman, Sp.OT, FIPM, FIPP, CIPS, C.PSH, COMSK, AIFMO, AIFO-K, Komisaris Klinik Artikulaar Orthopedic.
Seminar ini menampilkan dua scientific session utama yang menyoroti tren global ortopedi dan bedah saraf modern.
Sesi pertama membahas Epiphyseal Supporting Customized 3DP-Ti Cage for TLIF — inovasi implan 3D yang disesuaikan dengan anatomi pasien — serta prosedur Lumbar Epideuroneurolysis sebagai solusi minimal invasif bagi pasien stenosis kanal lumbal.
Sesi kedua mengulas pengalaman klinis 28 tahun dalam bedah tulang belakang serta masa depan pengobatan non-bedah bertajuk “A Life Without Pain, Surgery-Free – Inevitability or Illusion?”
“Inovasi seperti personalisasi implan 3D dan terapi minimal invasif terbukti meningkatkan tingkat keberhasilan operasi sekaligus mempercepat pemulihan pasien,” jelas Alif.
Sinergi Lintas Negara Menuju Standar Global
Sejumlah pakar dari Korea Selatan turut hadir sebagai pembicara, di antaranya Dr. Na Hwa Yeop (Bundang Jaesaeng Hospital), Prof. Im Soo Bin (Soonchunhyang University Bucheon Hospital), serta Seo Kyeong Jin dari Pemerintah Provinsi Gyeonggi.
Dari Indonesia, hadir dr. Muhamad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS (Primaya Hospital Bekasi Timur) dan dr. Alif Noeriyanto Rahman, Sp.OT (Klinik Artikulaar Orthopedic).
“Kolaborasi internasional mempercepat adopsi teknik bedah saraf terkini. Prosedur seperti Lumbar Epideuroneurolysis menjadi solusi bagi pasien yang tidak cocok dengan operasi konvensional,” ujar dr. Muhamad Aulia Rahman.
Ia menambahkan, sistem kesehatan Korea didukung oleh asuransi yang kuat, sehingga memudahkan akses penanganan kasus ortopedi kompleks.
dr. Alif menambahkan bahwa ortopedi modern kini berfokus pada functional restoration dan pain management komprehensif, dengan teknologi Customized 3D-Printed Titanium Cage sebagai inovasi yang meningkatkan presisi dan kepuasan pasien.
Menuju Kolaborasi Medis Berkelanjutan
Korea Selatan kini dikenal sebagai salah satu negara Asia terdepan dalam ortopedi dan bedah saraf, sementara Indonesia menonjol dalam pengembangan teknologi pengobatan nyeri sendi.
Melalui kolaborasi ini, kedua negara membuka peluang riset, pelatihan, dan transfer teknologi yang lebih luas, melibatkan akademisi dari Universitas Padjadjaran dan Universitas Pendidikan Indonesia.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat berkembang ke tingkat Government to Government (G2G), dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Gyeonggi untuk kemitraan medis jangka panjang,” ungkap dr. Alif.
Kedua narasumber sepakat bahwa integrasi teknologi medis mutakhir, riset, dan kolaborasi internasional menjadi kunci untuk membawa layanan ortopedi dan bedah saraf Indonesia menuju standar global.
“Kami membuka peluang luas bagi Indonesia untuk berbagi teknologi dan memperluas layanan kesehatan, terutama di bidang neurosurgery. Selain berstandar tinggi, biayanya juga lebih terjangkau dibandingkan negara lain di kawasan,” tutup Prof. Im Soo Bin. (Hs/Ft: Meili)
